Menu
Bahasa

Akaten (赤てん)

Akaten: golden panko-coated fish cakes with a pink-red center on a plate

Dari luar, akaten tampak seperti katsu ham di etalase makanan siap saji Jepang: keemasan, berbentuk persegi panjang, dan terbungkus panko yang renyah. Namun begitu dibelah, bagian dalamnya berwarna merah muda kemerahan yang cerah, berupa surimi (pasta ikan berbumbu) yang kenyal, lalu disusul sedikit sensasi pedas cabai.

Kontras itulah daya tariknya. Akaten (赤てん) adalah kuliner khas Hamada, kota nelayan di pesisir Laut Jepang, Prefektur Shimane. Asal-usulnya masih diperdebatkan, tetapi semua kisah utama mengaitkannya dengan upaya pada masa pascaperang untuk membuat pengganti katsu ham yang lebih terjangkau.

目次

Apa Itu Akaten?

Ilustrasi empat unsur akaten: Hamada di Shimane, pasta ikan dengan cabai, lapisan panko, dan bagian tengah berwarna merah muda kemerahan

Akaten adalah kue ikan khas Kota Hamada, Prefektur Shimane. Para pembuatnya membumbui surimi ikan putih dengan cabai, membentuknya menjadi persegi panjang pipih, melapisinya dengan panko, lalu menggorengnya. Hasilnya berkulit renyah keemasan, berbagian tengah kenyal berwarna merah muda kemerahan, dan umumnya hanya sedikit pedas.

Akaten Sekilas

Nama Jepang
赤てん (akaten); menurut Yamamoto Kamaboko, versi aslinya disebut “fry-ten”
Daerah asal
Kota Hamada, Prefektur Shimane, di wilayah Chugoku
Jenis makanan
Produk olahan pasta ikan goreng (nerimono) yang dilapisi panko
Bahan utama
Umumnya surimi ikan putih, pati, cabai, dan panko; bahan pastinya berbeda-beda tergantung produsen
Tekstur
Kulit renyah, bagian tengah kue ikan yang kenyal, pedas cabai yang ringan
Asal-usul
Konon berasal dari masa kekurangan pangan pascaperang; rincian pastinya belum jelas
Cara menyantap
Dipanggang sebentar, dengan mayones atau kecap asin
Contoh harga
¥432 untuk dua potong dari Yamamoto Kamaboko, per Oktober 2026

Mengapa Disebut “Ten”?

“Aka” merujuk pada warna merah di bagian tengahnya. Arti “ten” kurang pasti. Di Hamada, Yamamoto Kamaboko memakai kata tempura untuk salah satu jenis produk pasta ikan goreng, bukan hidangan bertepung tipis yang biasa kita jumpai di restoran. Jadi, “ten” mungkin berkaitan dengan pemakaian itu, tetapi sejarah penamaannya tidak terdokumentasi dengan kuat.

Akaten dan Kue Ikan Goreng Lainnya

Ilustrasi perbandingan akaten, satsuma-age, dan katsu ham dari segi lapisan luar dan warna bagian dalam

Jepang punya banyak kue ikan goreng, lalu apa yang membedakan akaten? Terutama lapisan pankonya, warna merahnya, dan cabainya. Pembanding yang paling jelas adalah satsuma-agedari Kagoshima, produk pasta ikan goreng lainnya, serta katsu ham, cutlet berlapis tepung roti yang konon ditiru oleh akaten.

CiriAkaten (Hamada)Satsuma-age (Kagoshima)Katsu ham
Bahan dasarSurimi ikan putih, patiPasta ikan; resep tradisional Kagoshima dapat menambahkan tahu, telur, gula, dan sake setempatIrisan ham
LapisanTepung roti pankoTidak ada, digoreng polosTepung roti panko
Warna bagian dalamMerah muda hingga merahPucatMerah muda
RasaGurih dengan sedikit pedas cabaiManis dan gurihAsin, terasa daging
TeksturRenyah di luar, kenyal di dalamBiasanya empuk hingga kenyal yang menyenangkan, tanpa lapisan tepung rotiRenyah di luar, empuk di dalam

Deskripsi akaten dan satsuma-age mengikuti profil makanan tradisional MAFF. Resep berbeda-beda menurut produsen dan daerah.

Sedikit penjelasan istilah akan membantu. Nerimono adalah rumpun besar produk pasta ikan Jepang, yang mencakup kamaboko, chikuwa dan produk khas Tottori, yaitu tofu chikuwa. Akaten termasuk dalam rumpun ini, tetapi lapisan pankonya dipinjam dari cutlet seperti tonkatsu.

Terbuat dari Apa Akaten?

Ilustrasi cara membuat akaten: cabai diuleni ke dalam surimi pollock, dibentuk, dilapisi panko, lalu digoreng

Akaten terutama dibuat dari pasta ikan, pati, cabai, dan tepung roti. Namun, jenis ikan, bumbu, pewarna, dan minyak penggorengnya berbeda-beda menurut produsen. Kementerian Pertanian Jepang (MAFF) menjelaskan metode tradisional berikut. Masing-masing pembuat bisa memakai ikan, peralatan, dan resep yang berbeda.

  1. 1Uleni cabai ke dalam surimi pollock Alaska memakai lumpang batu.
  2. 2Bentuk adonan menjadi persegi panjang pipih seperti katsu ham.
  3. 3Lapisi dengan tepung roti panko.
  4. 4Goreng hingga kulitnya keemasan.

Selain diuleni dengan lumpang batu, MAFF mencatat bahwa setiap toko memakai metode dan resepnya sendiri. Karena itu, dua akaten dari Hamada bisa tampak dan terasa cukup berbeda.

Mengapa Akaten Berwarna Merah?

Orang mungkin mengira cabailah yang membuatnya merah. Menariknya, setidaknya satu produsen mengatakan sebaliknya. Yamamoto Kamaboko menyatakan bahwa warnanya dimaksudkan agar menyerupai katsu ham, bukan untuk memamerkan cabai. Kini perusahaan itu memakai pewarna makanan, dan menurut mereka akaten buatannya lebih mendekati merah muda daripada merah.

Label produknya saat ini mencantumkan pewarna Red No. 3 dan Red No. 106. Produsen lain mungkin memakai pewarna yang berbeda, sehingga nuansa warnanya berbeda-beda dari merek ke merek.

Mengapa Teksturnya Kenyal?

Gigitan kenyal itu berasal dari gel pasta ikan itu sendiri. Menurut sebuah pusat penelitian perikanan Prefektur Nagasaki, ikan cincang yang dicampur garam lalu dipanaskan akan membuat proteinnya membentuk struktur elastis. Hasilnya adalah gigitan padat dan lentur yang ditemukan pada banyak kue ikan Jepang.

Tidak ada satu resep akaten yang baku

Bahan, pewarna, dan minyak penggoreng berbeda-beda menurut produsen. Jika Anda memiliki alergi atau pantangan makanan, periksa label pada kemasan yang Anda beli. Akaten standar umumnya mengandung gandum melalui panko dan bisa memakai pati berbahan gandum, jadi jangan menganggapnya bebas gluten.

Bagaimana Rasa Akaten?

Ilustrasi rasa akaten: kulit renyah, bagian tengah kenyal, dan pedas cabai yang ringan

Hal pertama yang terasa adalah kerenyahannya. Lalu bagian tengahnya terasa kenyal, nyaris liat, dan sama sekali tidak seperti ham. Rasa ikannya sendiri lembut dan gurih.

Seberapa Pedas?

Tidak terlalu, meskipun warnanya begitu. MAFF menyebutnya pirikara, ungkapan Jepang untuk rasa pedas yang menyenangkan, bukan pedas menyengat. Cabainya muncul sebagai kehangatan ringan setelah rasa gurih. Meski begitu, tidak ada tingkat kepedasan baku, dan tingkatnya berbeda-beda menurut produsen. Jika Anda sensitif terhadap cabai, mulailah dengan sepotong kecil dan periksa keterangan dari produsen.

Sejarah: Pengganti Katsu Ham pada Masa Pascaperang

Ilustrasi lini masa akaten dari tahun-tahun pascaperang hingga 2024

Akaten umumnya dikatakan muncul di Hamada pada masa kekurangan pangan setelah Perang Dunia II. Saat itu, para pembuat kue ikan setempat menginginkan pengganti katsu ham yang terjangkau. Namun, MAFF mencatat bahwa sejarah rincinya tidak diketahui, jadi berhati-hatilah terhadap satu tanggal pendirian tertentu.

Tiga Kisah Asal-Usul

Setiap sumber menceritakannya dengan cara berbeda. Sumber publik yang tersedia tidak menentukan versi mana yang lebih dahulu, sehingga ketiga penjelasan ini sebaiknya dibaca berdampingan.

MAFFSebuah toko kamaboko setempat membuatnya sebagai pengganti katsu ham pada masa kekurangan pangan pascaperang. Rinciannya masih belum jelas.
Yamamoto KamabokoSeorang pelanggan meminta pendirinya membuatkan katsu ham. Ia lalu membuat versi ikan yang disebut “fry-ten”, dan para pembuat lain kemudian menamai gaya yang sama akaten.
Prefektur ShimaneSebuah majalah prefektur tahun 2021 menyebut para pengolah setempat mengembangkannya untuk bersaing dengan sosis ikan yang menyebar luas setelah perang.

Yamamoto Kamaboko, yang berdiri pada 1893, mengaku sebagai pelopornya. Meski demikian, catatan publik saat ini tidak dapat memastikan siapa pembuat pertamanya.

Dari Camilan Lokal Menjadi Makanan Khas Shimane

Selama puluhan tahun, akaten tetap menjadi makanan lokal. Lalu pada 1987, program informasi TV Asahi “Nau NOW Studio” mengangkatnya, menurut siaran pers Prefektur Shimane. Tayangan itu membantu menjadikannya makanan khas Hamada dan hidangan yang dikenal sebagai khas Shimane. Kemudian, pada 2015, akaten meraih penghargaan Prefektur Shimane di Japan Gift Awards, demikian catatan MAFF.

Kini, lebih dari satu pembuat kue ikan di Hamada memproduksinya. Profil makanan tradisional MAFF menyebutkan bahwa tiga toko kamaboko membuatnya, meskipun jumlah produsen dapat berubah. Sementara itu, Egi Kamaboko mengumumkan perluasan pabrik pada 2024 dengan alasan pesanan dari luar prefektur yang terus bertambah.

Mengapa Hamada?

Hamada sejak lama adalah kota ikan. Pelabuhan perikanannya merupakan satu-satunya tokutei daisan-shu gyoko (特定第3種漁港) di Shimane, yaitu kategori Jepang untuk pelabuhan perikanan yang dianggap sangat penting bagi industri perikanan nasional. Para pembuat olahan pasta ikan pun telah berkarya di kota ini turun-temurun. Yamamoto Kamaboko berdiri pada 1893, sedangkan sejarah Egi Kamaboko dapat ditelusuri hingga 1912.

Akaten dalam Keseharian

Akaten bukan sekadar oleh-oleh. Menurut MAFF, warga setempat menyantapnya sebagai lauk makan malam, memasukkannya ke kotak bekal, dan memesannya untuk menemani minuman. Akaten juga muncul dalam menu makan siang sekolah di SD dan SMP Hamada.

Cara Akaten Biasa Disajikan di Hamada

Ilustrasi cara menyajikan akaten: dihangatkan, diiris, diberi saus celup, lalu dipadukan dengan hidangan atau minuman

Akaten sudah matang, jadi bisa dimakan langsung dari kemasannya. Meski begitu, banyak orang menghangatkannya dahulu. MAFF menyebutkan bahwa orang menyukainya dipanggang sebentar dan disajikan dengan kecap asin atau mayones.

Cara Sederhana Menyajikan Akaten

  • HangatkanPanaskan di wajan kering tanpa minyak hingga kecokelatan tipis. Bisa juga memakai pemanggang roti.
  • IrisPotong memanjang agar bagian tengahnya yang merah terlihat.
  • Beri saus celupSajikan dengan mayones, setetes kecap asin, atau keduanya.
  • PadukanNikmati sebagai lauk, dalam bento, atau bersama bir atau sake.

Yamamoto Kamaboko menganjurkan wajan kering hingga kecokelatan tipis, dan menyebut cara itu membuat akaten terasa lebih enak. Sementara itu, sebuah majalah prefektur Shimane mencatat bahwa memanggang akaten memunculkan aroma dan kerenyahan lapisannya. Sebagai alternatif praktis, oven pemanggang kecil juga seharusnya menjaga kulitnya lebih baik daripada microwave, yang cenderung melembekkan panko. Lama pemanasan bergantung pada ketebalan dan suhu produknya. Untuk akaten beku, ikuti petunjuk pelelehan dan pemanasan ulang dari produsen.

Tempat Membeli Akaten dan Cara Menyimpannya

Ilustrasi tempat membeli dan cara menyimpan akaten: pembuat di Hamada, toko di tempat lain, paket daring, dan penyimpanan di lemari es

Tempat termudah untuk menemukan akaten adalah Hamada sendiri, tempat para pembuatnya menjualnya langsung. Di luar Shimane, MAFF mencatat bahwa akaten kian mudah ditemui di restoran, pusat perbelanjaan, dan gerai promosi prefektur di Tokyo. Sebagian pembuat juga menjual secara daring. Yamamoto Kamaboko, misalnya, mencantumkan akaten kemasan vakum dan beku di samping kemasan reguler.

Di Tokyo, carilah di toko khusus produk Shimane dan pameran makanan daerah di pusat perbelanjaan besar. Namun, stok sering berubah, jadi cari “akaten” atau “赤てん” di halaman produk toko yang terbaru sebelum Anda berangkat.

Penyimpanan Bergantung pada Produknya

Simpan akaten dingin persis sesuai petunjuk pada labelnya. Produk standar Yamamoto Kamaboko, misalnya, harus disimpan pada suhu 10°C atau lebih rendah. Produk itu juga tahan selama tujuh hari, dengan menghitung tanggal produksi. Kemasan, suhu penyimpanan, dan masa simpan berbeda-beda menurut produk, jadi periksa daftar produk dan label sebelum memesan. Setelah dibuka, simpan di lemari es dan ikuti petunjuk setelah pembukaan, sebab tanggal yang tercetak mungkin hanya berlaku untuk kemasan yang belum dibuka.

Kesimpulan: Mengapa Akaten Layak Dicoba

Akaten berkesan karena memadukan tiga gagasan yang akrab dengan cara yang tidak biasa: kue ikan, cabai, dan lapisan renyah ala cutlet. Setelah dihangatkan hingga kecokelatan tipis, akaten menghadirkan cita rasa budaya perikanan Hamada yang mudah dinikmati. Ia juga bercerita tentang kreativitas memasak pada masa pascaperang, meski tak seorang pun bisa memastikan siapa pembuat pertamanya.

Catatan riset: Bahan produk, harga, masa simpan, dan ketersediaan di toko diperiksa pada Oktober 2026. Rincian ini berbeda-beda menurut produsen dan dapat berubah.

Tanya Jawab tentang Akaten

Tentang Makanannya

Apa itu akaten?

Akaten adalah kue ikan berlapis panko dari Hamada, Prefektur Shimane. Bagian tengahnya berwarna merah muda kemerahan, kulitnya renyah, dan pedas cabainya ringan.

Apakah akaten sama dengan satsuma-age?

Tidak. Keduanya kue ikan goreng, tetapi akaten berlapis panko, berbagian tengah merah, dan memakai cabai. Satsuma-age biasanya digoreng tanpa tepung roti.

Mengapa akaten berwarna merah?

Warnanya belum tentu berasal dari cabai saja. Yamamoto Kamaboko menyatakan produknya diberi warna agar menyerupai katsu ham dan mencantumkan Red No. 3 serta Red No. 106, sedangkan produsen lain mungkin memakai pewarna yang berbeda.

Apakah akaten sangat pedas?

Kebanyakan versinya agak pedas, bukan pedas menyengat. Namun, tidak ada tingkat kepedasan baku, jadi mulailah dengan sepotong kecil jika Anda sensitif terhadap cabai.

Apakah akaten mengandung daging?

Akaten berbahan dasar pasta ikan, bukan ham. Meski begitu, resep dan kondisi produksi berbeda-beda, jadi jika Anda menghindari bahan turunan daging atau peralatan yang dipakai bersama, tanyakan langsung kepada produsen.

Apakah akaten bebas gluten?

Jangan menganggapnya demikian. Akaten standar umumnya mengandung gandum melalui panko dan mungkin juga memakai pati berbahan gandum, jadi baca label produk yang bersangkutan.

Siapa yang menciptakan akaten?

Tidak ada yang tahu pasti. MAFF mengaitkannya dengan Hamada pada masa pascaperang tetapi menyebut rinciannya belum jelas, sedangkan Yamamoto Kamaboko menyatakan pendirinya membuat versi pertamanya.

Memanaskan Ulang, Menyimpan, dan Membeli

Bagaimana cara memanaskan ulang akaten?

Wajan kering atau oven pemanggang kecil menjaga lapisannya tetap renyah. Satu pembuat di Hamada menyarankan wajan kering hingga kecokelatan tipis.

Berapa lama akaten tahan disimpan?

Tergantung produknya. Akaten dingin standar dari Yamamoto Kamaboko tahan tujuh hari pada suhu 10°C atau lebih rendah, dengan menghitung tanggal produksi. Kemasan lain mungkin berbeda, jadi periksa labelnya.

Di mana membeli akaten di luar Shimane?

Carilah di toko khusus produk Shimane, pameran makanan di pusat perbelanjaan, dan situs web para pembuatnya. Periksa stok terkini terlebih dahulu, karena ketersediaannya berubah.

Referensi

Tampilkan semua 9 referensi

Artikel Terkait

Food in Japan
Discover Japan,
One Dish at a Time
Explore authentic Japanese cuisine, regional specialties, traditional recipes, and food culture from all 47 prefectures.
Explore with Food in Japan
✓ Authentic Recipes
✓ Regional Specialties
✓ Food Culture
✓ Fresh Stories Daily
Follow Food in Japan
Google Preferred Sources
Prefer Food in Japan in Google Search
Add Food in Japan as one of your preferred sources and discover authentic Japanese food stories whenever they are relevant.
Google Preferred Sources
Please share this post!
  • URLをコピーしました!

About the Writer

Ryo Iwaのアバター Ryo Iwa Founder and Editor, Food in Japan

Ryo Iwa adalah pendiri sekaligus editor foodinjapan.org. Lahir dan besar di Jepang, ia menulis berdasarkan perjalanan ke berbagai daerah, kunjungan ke pasar, serta sumber primer berbahasa Jepang yang jarang sampai ke pembaca berbahasa Inggris, termasuk publikasi lembaga pembuatan minuman dan glosarium industri. Jika sebuah angka tidak dapat dilacak ke sumbernya, artikel akan menyatakannya.

Ia telah menjadi Google Maps Local Guide selama lebih dari 10 tahun, dengan lebih dari 1.850 ulasan dan lebih dari 42.000 foto yang telah dilihat ratusan juta kali. Sebelumnya, ia menghabiskan dua dekade sebagai konsultan TI di Jepang, Amerika Serikat, dan Inggris.

コメント

コメントする

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

目次